Piramida Asa
Oleh : Aisyah Senja Mustika
Pagi 8 mei 2007, seperti halnya aku selalu latihan drama setiap setahun sekali dengan adegan sama namun improvisasi mendominasi, atau mungkin 75 % improvisasi isi semangat, ide, kejujuran, tekun, teguh plus senyuman manis rasa brownies. Selebihnya aturan main ala Sutradara yang kadang berimbas totalitas improvisasi.
Genap 13 tahun usiaku dan saudara kembarku, Fatimah. Pagi itu kami nikmati 13 tahun lamanya hidup sebagai pribadi yang berbeda, aku dan dia. 06.00 WIB, Fatimah sudah siap mengayuh sepeda ontel warisan dari Ayahku, untuk menempuh jarak 5 km ke sekolah. Aku terpaksa berangkat pagi, pantatku sudah harus menempel diboncengan sepeda sebelum Fatimah berteriak “Ria. . . ayo cepet, kenapa kau tak tinggalkan saja pantatmu diboncengan, supaya aku tak perlu menunggumu. . .!, kau sudah telat . . . menit lebih . . . detik.”(isi sendiri maksimal 5 menit). Dan aku selalu bergumam dalam hati tepatnya lagi gosok gigi dikamar mandi habis sarapan, “Uhm… dasar Fatimah, kenapa sih dia tak mau memberi kesempatan pak satpam untuk memecahkan rekor karena bisa berangkat lebih awal dari dia . . .mana dia suka ngritik pak satpam lewat kotak kritik lagi, . . .kan pak satpamnya jadi sering axis dimarahi kepsek. . .! huuuuuuu”( tak lupa memanyunkan bibir)
Aku segera bergegas menyambar tas dengan muka bete plus memanyunkan mulut supaya bisa nampang dimajalah harian “Pagi”(majalah ala aku & Fatimah)dan bisa jadi breakingnews dengan judul “Aku Jengkel”
Langsung duduk di belakang pak kusir yang sedang marah, memegang bajunya yang tadi malem udah dilicinkan pake setrika arang dan dilapisi jaket berlogokan “LEC”(komunitas pelajar bahasa Inggris di skul kami) plus topi bertuliskan “LT4”(singkatan lomba Tingkat 4,berasaskan Scouting for Boys n Girls). Bener-bener tidak matcing. Ironisnya dia jadi trendsetter dan aku jadi follower. . .cape dehhhh
Sipppp dia memanjatkan doa seraya persiapan menggenjot rangka pedal yang sisi-sisinya sudah hilang semua.
“kita berangkat……….!..Asssalamualaikum !”seru kami berdua
“Tunggu…”suara dari dalam terkesan serempak
Tiba-tiba”Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun,selamat ulang tahun Fatimah dan Ria, selamat ulang tahun”suara bunda, ayah, nenek, kak Tuti dan kak Nur sambil bertepuk tangan mengagetkan sekaligus mengharukan kami.
Nenek berjalan ringkih penuh semangat membawakan sepiring gethuk, Bunda membawa bergedel kentang dan kak Tuti menenteng a pink gift tak tau isi apa. Semua saling berpelukan, Fatimah melupakan sejenak beberapa menit keterlambatan dan membaur bersama.
Ayahku berpesan banyak hal,hari ini ayahku akan kembali berlayar, meski tadi malam telah berpamitan dan bercerita banyak hal,rasanya selalu tak rela setiap kali mendengar akan segera kembali ke Bangka.
“Taraaaaaaaa(menunjukan a pink gift),ini kususon untuk dua adikku tercinta ! emang satu tapi isinya sepasang lho…(kak Tuti dan kak Nur menyerahkan sambil tertawa sumringah
“Terimakasih kakak”jawab kami berdua serempak. Dua kakak kami terpaksa putus sekolah,ayah sudah berusaha semaksimal mungkin untuk pertahankan mereka,Dengan tidak hanya menjadi kuli di PT Nusa Indah(perusahaan pelayaran) namun juga memburu karang laut. Kakak tidak tega melihat ayah bekerja keras sampai harus berenang berjam-jam, belum lagi luka-luka penuh darah dari gesekan terpaan air dan gesekan kulit kerang, akhirnya mereka memutuskan untuk berhenti sekolah dan bekerja sebagai buruh pabrik tepat dimana bunda pun bekerja disitu. Gajinya sehari rata-rata Rp 5.000,- per hari, kalau penghasilan bunda, kak Tuti dan kak Nur digabung berarti sehari rata-rata Rp 15.000,-. Alhamdullilah cukup untuk makan ala kadarnya. Sedangkan gaji ayah tiap bulannya berkisa Rp 150.000,- sampai Rp 200.000,-per bulan,cukup untuk uang SPP Rp 50.000,- x 2 orang dan sisanya sebagai uang listrik, beli beras,beli alat tulis, dan tambal ban.
Soal uang saku, beli baju, beli tas, beli sepatu kami selalu percaya a pink gift dari Allah. Dan kurasa Dia selalu memberi a pink gift tepat pada waktunya.
“nenek sayang kalian”nenek bicara pelan tersenyum berhiaskan kerutan pipi dengan gigi yang mulai jarang, memberikan sepiring gethuk warna-warni
“kami juga sayang Nenek…”ucap kami kompak sambil mencium nenek
sementara bunda memasukkan bergedel kentang yang dibungkus plastik warna biru kedalam ranselku.”Segeralah berangkat,nanti kalian terlambat”pinta bunda
Fatimah ambil posisi kaki kanannya diatas pedal, sedangkan kaki kirinya menyangga.Aku menyusul mengambil posisi.Perjalanan kesekolah hari ini seolah telah mendapat stimulus, Fatimah mengayuh sepeda lebih cepat dari biasa, sayangnya keduluan pak satpam 7 detik,Fatimah memang terbiasa jadi Sri one time
Orang tuaku menaruh harapan besar pada kami,daya dan upaya dilakukan agar kami tetap mengenyam bangku pendidikan hingga kini kita sampai pada titik penat sekaligus bangga. Bangga karena Allah SWT begitu perhatian pada kami,penatnya kita tak tau apakah sekolah akan putus atau berlanjut.
Hari-hari terus dilalui, Alhamdulilah semester ini kita masih menduduki jura paralel,setidaknya itu menjadi pertimbangan sekolah mempertahankan kami lewat keringanan biaya SPP.
@@@
Semester I kelas XII mulai persiapan menuju SNMPTN. Detik waktu ibarat emas, untuk belajar tentang rumus mstematika,fisika ataupun kimia, memahami konsep biologi, memfasihkan bahasa juga bekerja. Ya …..bekerja, semester ini ayahku pengangguran, kapal tempat bisanya ia bekerja mengalami kecelakaan hebat, yang mengharuskan ayahku untuk bersyukur dengan kebuntungan tangan kanannya. Jangan tanya kapan ayah mulai bekerja, persoalan yang tidak mungkin dipersoalkan, tapi persoalan sebenarnya bagaimana semua anggota keluarga membesarkan hati ayah serta mencari pengganti biaya Rp 150.000,- sampai Rp 200.000,- per bulan untuk uang SPP, tambal ban, pajak listrik dan uang sabun.
Alhamdulilah kita dapat jalan keluar, salah satu teman bunda menawakan kami pekerjaan dirumah dengan menata ulang gunungan benang sulam yang tanpa diketahui berapa jumlah ujungnya, semua membaur menjadi satu,saling terikat satu sama lain, satu ditarik yang kena seratus…mengambil bagian manapun akan selalu disibukkan dengan benang lain.
Suatu hari diruang depan, saat aku dan Fatimah memilah benang, sambil kami melirik buku yang dibuka lebar dan disandarkan pada tembok
Fatimah berkata serius padaku”Kau pernah baca tulisan Kahlil Gibran tentang benag?”
“Belum,apa?”jawabku antusias sambil menjauhkan pandangan dari buku yang sejak dari tadi aku pelototi rangkuman rumus Laju Reaksi.
Fatimah menjelaskan sok bijak,”Bekerja dengan rasa cinta berarti menyatukan diri dengan diri sendiri, kepada diri orang lain, dan kepada Tuhan. Tetapi bagaimana bekerja dengan rasa cinta itu?Bagaikan menenun dengan benang yang ditarik dari jantungnya, seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak”
“Weh ……,keren keren keren !”ucapku kagum sambil meningkatkan kadar semangatku.
Berfikir sejenak….kemudian kulanjutkan”Ngomong-ngomong dari mana kau baca itu?”(penasaran banget)
“Kau suda sampai nomer berapa membaca rumusnya?”Fatimah bertanya menggelitik.
“uhm ….sampai nomer 19”kujawab lugas
“berarti kamu kalah cepat satu nomer denganku!,coba aja kamu baca dibawah nomer 20….,pasti ketemu…!...he5x…”Fatimah tertawa bangga
Aku mengernyitkan dahi,”he….ternyata…”
Berfikir agak lama…..”tapi apa hubungannya dengan kita?”analisaku
“Anggap aja gunungan benang tidak teratur ini sebagai bahan untuk membuat baju hitam dan toga yang akan kita pakai nanti saat wisuda”jelas Fatimah sambil menatap langit-langit dan bibirnya senyum-senyum.
“Apa kamu yakin dengan ucapanmu?”aku sangat kaget sambil menatapnya dalam-dalam.
“Dengar…aku sangat takut dengan hal itu, tapi kemudian menjadi sangat berani, karena aku bertindak.Kita tak sendiri, percayalah Allah bersama kita dan dia akan menyekolahkan kita”Fatimah menjawab lantang penuh semangat sambil menepuk pundaku dan tersenyum yakin
Kubalas senyum kecil sambil teringat akan sesuatu”Fatimah apa kita jadi ikut seleksi untuk mendapatkan beasisiwa ke perguruan tinggi yang dibilang mengerikan itu?’
“Ku beri tahu kau sebelum kau mengeluh lagi, ada sekitar 120.000 orang berasal dari luar dan dalam negeri dengan niat yang sama,hanya 1000 orang yang akan diloloskan, bahasa pengantar adalah bahasa Inggris. Jumlah soalnya 200 dan durasi waktu 150 menit. Tes diadakan hari senin tepat 75 menit setelah ujian mid semester usai. Sedangkan perjalanan kita untuk sampai dilokasi ujian sekitar 45 menit dengan sepeda ontel,kalau ditambah dengan 5 x 1 menit untuk berhenti setiap lampu merah , kita menaiki tangga sampai lantai empat membutuhkan waktu sekitar 5 menit,daftar ukang 5 menit dan 5 menit untuk suvei tempat. Itu berarti kita bisa sampai ruangan 10 menit sebelum dimulai,”Fatimah menjelaskan lugas
Aku mengangguk seolah paham
Fatimah meneruskan”Untuk kali ini kau benar-benar tak boleh terlambat menempatkan pantatmu diboncengn,bahkan untuk 0,5 menit saja. Aku akan menaruh sepeda diruang depan sekolah, jadi perlu antri diparkiran. Dan tugasmu mengecek ban sepeda, pastikan semua tambalan aman.”
Aku antusias”okey…!”
Berhenti sejenak dan kuputuskan untuk bertanya”Kau punya ide supaya kita bisa memenangkan kompetisi itu?”
“Malam hari jangan gunakan untuk strees belajar. Sholat malam, dan bilanglah pada Allah besok kau akan bertanding, bertanding melewati arena yang Dia pilih dan mintalah dia untuk bertanggng jawab. Tanamkan ini baik baik-baik, sepeda kita akan melaju bukan untuk berkompetisi melawan orang lain, tapi melawan ketakutan kita sendiri, melajulah karena Allah memegangimu dan para malaikat senantiasa mendo’akanmu. Dan saat ujian dimulai….tersenyumlah, atur nafas pelan, keluarkan kemampuanmu secara proporsional,antusias berlebihan akan memeudarkan konsentrasi. Saat selesai, letakkan semua harapan dan pasrahkan semua pada-Nya. Anggap itu hanya sebuah permainan seru dan menantang”Lagi-lagi Fatimah menjelaskan penuh semangat
@@@
Hari ini sebuah amplop warna coklat bertuliskan “LULUS” atas nama Juqariah dan Fatimah yang kami terima dari pak pos jam 3 sore telah mematahkan teori jika keluargaku belum ada yang sampai pada jenjang SMA.
Seminggu kemudian aku dan Fatimah berinisiatif melamar pekerjaan, kami pun membuat surat lamaran keberbagai instansi, mulai dari perkantoran, perdagangan bahkan warung kuliner sekalipun
Beberapa bulan kemudian, surat balasanpun satu per satu kami terima. Balasan pertama datang bagai angin surga yang membawa harapan,namun ternyata isinya bagai lahar gunung Merapi. Surat kedua kembali menorehkan harapan,tapi lebih menyakitkan sebab menurunkan drastis harapan semua anggota keluarga seperti halnya racun merasuk tubuh. Terus berlanjut kesurat-surat selanjutnya, hingga yang terakhir juga belum bisa diterima dengan alasan tidak punya skill, kabarnya bagai bom atom yang jatuh di Hirosima dan Nagasaki, tak cuma ledakan kemudian berhenti penderitaan tapi juga merusak tanah subur, subur seperti harapan kami..dan melayukannya.
Siang itu, sudah tak tau lagi apa yang akan terjadi. Semua surat balasan sudah kami terima dan hasilnya nihil..
“Ada pak pos datang …..!”terdengar suara kak Tuti dari luar
Tak ada yang peduli,,tapi bunda tiba-tiba nyeletuk”surat untuk siapa?..bukannya surat balasan lamaran sudah habis?”
Semua saling menatap bingung
Kak Tuti berteriak lagi lebih lantang”Fatimah….Ria….ini surat untuk kalian..! dariiiiiii….dariii Uni…Uni…Uniiiver…”
“Jangan-jangan….”Fatimah sambil beranjak dari kursi dan langsung berlari menuju kak Tuti
“Kak tuti….mana suratnya?!!”Fatimah berteriak riuh pada kak Tuti yang baru sampai didepan pintu.
Dua buah amplop warna merah yang terlihat cantik dan terdapat semacam logo pada sampulnya. Semua orang dibuat gelisah dengan isi surat itu..
Pelan Fatimah membuka lem pada amplop,sesaat dia menatapku. Diteruskan dengan membuka lipatan, semuanya semakin dag dig dug
Pertama surat atas namaku yang dibacakan Fatimah
“University of Harvard…………….
. . .
Congratulation…!
You are accepted in University of Harvard as English Department Student”
Semua terhening….
Aku pucat pasi juga sumringah….tak taulah…tapi rasanya campur aduk
Fatimah dengan cepat membuka amplop atas namanya dan langsung membaca bagian tengah
“Congratulation…!
You are accepted in University of harvard as Communication Student”
ssiip
ReplyDeletessiipp
ReplyDelete