Thursday, May 19, 2011

Sahabat, Kalimatku Rancu(Puisi)

Sahabatku, Kalimatku Rancu
Sahabat kemana saja kau ?
Duniaku sekarang sangat ramai
Hingga tak ada pamlet-pamlet sepi dilorong-lorong waktu
Tahukah kau
Mati-matian aku melebur dilarutan ramai itu sahabatku
Tapi aku tak bisa larut
Aku mengendap
Ada satu molekul yang hilang
Hingga aku tak bisa berikatan
Ingatkah ?, molekul itu pernah kutitipkan padamu
Masihkah kau simpan ?

Sahabatku sedang apa kau sekarang ?
Disini lucu sekali
Tak bisakah kau kesini ?
Aku sedang tertawa
Aku sedang tertawa sahabatku, tapi . . .
Raut wajah kiri tak sudi diajak berbohong
Maukah kau membujuknya ?
Bukan untuk tawa palsu
Tapi mengajak hatiku tertawa.

Sahabatku, dimana tempat tepat kau berdiri ?
Bisakah kau pegangi aku ?
Disini riuh sekali
Aku tak sendiri
Banyak orang merangkulku
Tapi bisakah kau pegangi aku ?
Karena mereka cepat datang dan berlalu

Sahabatku, bisakah kau lebih dekat dengan ruhku
Memang. . .
Disini sangat terang, bahkan terlau terang
Banyak cahaya lampu disudut-sudut jalan
Tapi ada kegelapan yang tak bisa diterangi lampu Edison
Hanya lentera hati yang berfungsi
Bisakah kau bantu aku menyulutnya
Aku begitu takut dengan kegelapan jahanam

Sahabatku, apa kau sedang sibuk ?
Tengoklah sebentar tulisanku
Alamatnya ada di http:/lubukhati.blogspot.com
Ada kalimat yang rancu
Kalimat tanpa predikat.

Bungkus Tape Mbak Sri(Cerpen)

Bungkus Tape Mbak Sri
“Kepada : Mas Prapto Kedai Leker
Terbaur alur peredaran darah, hingga terbawa keseluruh belahan otak. Dia terbersit rapi dalam memori, kemudian melekat menjadi pemahaman. Dia merasuk kedalam hati, ikut beregenerasi bersama hati yang akhirnya menjadi bagian dari hati itu sendiri.
Cintamu kuterima . . .
Telah kupertimbangkan matang-matang pernyataan cintamu beberapa waktu yang lalu. Namun bukan dengan berpacaran. Jika benar cintamu tak palsu, lamar aku.
Ttd : Sri kedai tape goreng.”Baca Ihsan sambil kesulitan mengeja huruf pada kertas penuh minyak, bekas bungkus tape yang isinya baru saja terselesaikan masuk kemulut. Dirangkai dengan raut wajah unik yang tak mampu kubaca dengan ilmu Karakterologi tipe Hyprocrates Galenus, Heymans apalagi Kretschmer. Tapi yang jelas wajah memerah dan tatap mata penasaran mengisyaratkan bahwa surat itu menyita perhatiannya. Meski bukan untuknya.
Masih dengan wajah yang sama dia bertanya lirih “Mbak Sri, benarkah telah memilih Mas Prapto pemilik kedai leker di area kampus itu. . . .sebagai calon suami?”
“Satu jam yang lalu, sekarang tak lagi” Jawabku singkat.
“Jadi pergulatan kata tak sampai tujuan lagi?, kurasa Mbak Sri tulus mencintai Mas Prapto”. Pertanyaan sekaligus pernyataan Ihsan menajam kilat menuju Hemisfer Serebrumku.
Kujelaskan pada Ihsan, sebab rupanya hati telah menemukan tempatnya untuk bernafas menghela gundahnya. “Dia mengejarku cukup lama, tak ada salahnya kubuka hati untuknya, meski dimata orang dia pemain hati perempuan, aku berkeyakinan itu berakhir setelah dia mendapatkanku. Kutarik ulur nalarku mempertimbangkan segalanya. Mulai dari kebiasaan boros, berlaku kasar, sampai hal kecil yang menjadi bagian dari pribadinya. Setiap orang punya sisi buruk, dan kuterima bagian darinya itu. Sebelum surat ini sampai, dia mendengar dari Husnah temanku, bahwa prinsipku menikah, bukan pacaran. Mas Prapto ternyata hanya ingin sekedar memasukkanku kedalam daftar nama perempuan yang berhasil dia ajak senang-seneng. Dia tinggalkan aku sebelum tahu jawabanku. Generalisasiku salah”.
Wajah Ihsan meredup bak pohon rindang yang menyekap terik surya agar tak sampai pada Si Penggembala yang berteduh dibawahnya dan berucap “Semoga jiwa yang lara akan bertemu dengan jiwa penawarnya, semoga jiwa yang suci akan merasuk dengan jiwa yang membuatnya suci, dan semoga jiwa yang setia bertemu dengan jiwa yang membuatnya abadi”.
“Lara itu bukan seperti sakitnya hati yang diiris kemudian diambil, tapi seperti memisahkan sel-sel terkait membentuk jaringan hati yang telah padu. Tiap kali jaringan itu ditarik, sakitnya menghujam keseluruh tubuh, hingga peredaran darah labil dan fungsi otak tumpang tindih”. Balasku dengan air mata menuju gaya gravitasi, menyapu bekas debu kotor dipori pipi bekas abu dapur yang mengepul.
“Ihsan beranjak dari kedaiku yang mulai remang ditinggal cahaya senja.”Terimakasih tapenya, uang kembalinya untuk Mbak Surti. Semua akan baik-baik saja. Surat bungkus tape ini kubawa sebagai dokumentasi tambahan untuk rekomendasi tulisan Mbak Surti pada publiser”.
“Tak lelahkah kau?” Tanyaku.
“Kenapa kau tak lelah menulis tanpa imbalan?”jawabnya
“Karena aku bekerja dengan cinta”.
“Begitu juga aku”. Jawabnya dilanjutkan paras manis yang dilukis dengan senyum.
Senyum Ihsan, mahasiswa kedokteran UMS semester empat, sekaligus langganan tape goreng setiap surya berpamitan pulang kebarat. Senyumnya, senyum penuh arti yang selalu kutunggu saat sore menjelang, mengakhiri kelelahan tak berkawan, menyeruakkan ambisi dipasar nisan, dan memberi amunisi optimasi harapan untuk mimpiku esok hari.
Ihsan, mahasiswa pengumpul kertas bekas bungkus tape kedaiku. Kertas penuh coretan hasil imajinasiku. Ihsan, selalu ada hal baru dari tiap desah ucapnya mensugestiku nan sayup dendang menghimbau “tulisanku akan terbit”. Dukungannya ibarat laju reaksi yang tak kunjung mengalami titik jenuh.
Aku. Menulis adalah kebahagiaan, penulis adalah impian. Kucukupkan bagiku dengan keadaan ini, bagiku aku telah seorang penulis. Bukan penulis bernafaskan uang, bukan penulis pengemis sanjungan. Tapi penulis riang yang mengintegralkan kata, mengakumulasi kalimat dan seolah memberi ruh pada tiap paragraf. Bukan pengenyam bangku pendidikan memang, karena bangku pendidikan terlalu keras untuk gadis penjual tape goreng tanpa ayah. Kupelajari hal yang bermodalkan ringan, huruf hijaiyah dan alfabet dari buku bekas taman kanak-kanak, kenal berhitung dari budaya dagang, dan belajar makna kata dari kiloan koran bekas calon bungkus tape. Awalnya tak begitu paham, tapi dibantu karikatur unik penyindir tikus berdasi yang ternyata telinganya tersumbat dan malah ternina bobok dengan suara pendapat.
@@@
Pukul 03.00 WIB. Pagi yang tak pernah lengah, asap hasil pembakaran tak sempurna kayu mulai menari diatap dapur, suara gemerisik minyak goreng mengepung tape-tape berbalut adonan gandum, dan guncangan bertempo tiap kali truk-truk besar dari luar kota mulai melintas didepan rumah. Tapi pagi yang tak pernah kehilangan damainya sebab malaikat tak bersayap sedang khusuk sholat tahajud berkomunikasi dengan Tuhannya. Tak tahu pasti apa yang sedang dia pinta, tapi kuyakin tiap butir do’anya menguatkan langkahku, air matanya untuk ampunan, dan sujud simpuhnya untuk pengabdian. Ibu, malaikat yang dijanjikan Allah sebelum aku terlahir sebagai penjaga bertaruh jiwa dan raga. Memang hanya ibu, ibu dan aku. . .
Digubuk berbahan dasar anyaman bambu usia tigapuluhan tahun, berbentuk persegi ukuran 4x4 meter. Beratapkan genteng bocor kala hujan.
Pukul 06.00 WIB. Sepeda bututku melaju menuju kedai.
Pukul 18.00 WIB. Sepeda bututku melaju menjauhi kedai,setelah beberapa saat mahasiswa kedokteran itu memborong beberapa buah gorengan tape terakhir dengan bungkus kertas berisi puisi yang kutulis hari ini.
Kulirihkan sepedaku, mendekati. . .mendekati. . .mendekati abu hitam dan beberapa batang bambu gosong yang sesekali mengeluarkan api dan secara terus menerus memproduksi asap. Mendekati riuh penuh orang-orang pembawa ember berisi air dan mendekati perempuan berwajah pucat penuh iba berbalut air mata sedang bersimpuh tak jauh dari riuh itu. Ibu. Abu diatas tanah berukuran 4x4, karbondioksida dari anyaman bambu yang selesai disantap si jago merah.
Ya, ini rumahku.
Terbakar bersama mimpi-mimpi yang kami gantung didinding-dinding anyaman bambu lusuh.
Aku, ibu dan sepeda peluncur penuju kedai tape malam ini diwajibkan melewati alur berkabut dan menyusuri jalan panjang tanpa kawan menuju kampung halaman. Sragen. Tanpa pamit pada rona wajah Solo dan penghuninya, siapapun itu.
@@@
Lima tahun berlalu, dikampung halaman kami rajut kehidupan. Tetap menjual tape. Tetap menulis. Tetap jadi penulis. Tanpa Ihsan. Tanpa mahasiswa pengumpul bekas bungkus tape kedaiku. Ihsan, mungkin benar perpisahan terkadang harus ada untuk mencairkan hati beku, mengaku, dia jantung hatiku. Cukup bagiku, aku seorang pecinta.
Tak kusiakan lantai kertas tempat penaku menari dipenuhi minyak lagi. Mereka, kusimpan rapi berharap dia kembali untuk menghimpun lagi. Terasa tak mungkin, tapi dia ajari aku bermimpi.
Ihsan, mungkin sekarang dia dengan pujaan hatinya. Laki-laki berparas manis, berhati malaikat dan sarjana lulusan ilmu padi.
Jum’at, 1 april jam 10.00 WIB, akhirnya sampai pulalah aku di Solo tempat Husnah sahabatku, sahabat yang tak sempat aku berpamitan padanya.
“Assalamualaikum”.
“Walaikumsalamwarahmatullahwabarakatu”.
“Subhnallah, Sri?. Kemana saja kau?, bagaimana kabarmu” Tanya Husnah masih begitu ramah padaku, muslimah berdarah Padang yang mengajariku tentang Islam.
“Ana bikhoir, walhamdulilah, bagaimana denganmu?”
“Alhamdulilah, tak jauh beda dengan kau”.
Dia melanjutkan.”Ada suatu hal yang ingin kukatakan padamu”
“Apa itu Husnah?, sepertinya penting?, tentang gamismu yang masih suku terbang saat naik sepeda?hahahahaha”
“Hai. . .ini tentangmu. Tentang Ihsan”. Serius Husnah
Kurasa frekuensi detak jantungku meningkat tajam, tensi darah naik, hormon adrenalin mereproduksi lebih banyak, dan keringat dingin ini membuka rahasia perubahan psikisku pada Husnah.
“Apa yang sebenarnya tejadi dengan hati kalian?” pertanyaan Husnah serasa menggantung. Tanpa tanggung jawab maksudnya apa, dia masuk kedalam kamar.
Menunjukkan sesuatu padaku. Buku.
Aku amati perlahan judul buku bersampul orange ini, “Bungkus Tape Mbak Sri”. Kucari-cari disudut kanan atas”Sri Lestari”. Lalu turun kebawah bagian paling pojok”Ihsan Publiser”.
Rasaku membahana tak karuan, ku lanjutkan halaman pertama, kedua, dan ketiga.
“Buku ini adalah karya seorang gadis penjual tape goreng depan kampus saya, dihimpun dari kertas-kertas bekas bungkus tape dari kedainya.Gadis yang senyumnya selalu dinanti saat senja menjelang. Menikmati siang berganti malam, di kedai tempat dimana hati telah terpaut dengan bambu-bambu kerangka hati pemiliknya”
dr. Ihsan Abdullah
“Buku ini laris terjual, dia menitipkan ini, rekening tabungan hasil penjualan buku”. Ucapkan Husnah sambil menyerahkan sesuatu.
Aku tak terlalu peduli dengan hal itu, aku lari menuju halaman terakhir, Biografi
“Mbak Sri adalah . . . .” ini juga tak penting
“Husnah, dimana Ihsan?”
“Satu tahun yang lalu, dia memutuskan untuk pindah ke California, AS, setelah menikah dengan seorang gadis kedokteran pula. Dia bekerja disana dan dikabarkan telah dikaruniai seorang anak”
Benar, Ihsan telah bersama pujaan hatinya. Tapi. . . Cukup bagiku, aku seorang pecinta.

Friday, May 6, 2011

Untuk Selamanya kan Terus Begitu

Untuk Selamanya kan Terus Begitu
Bila . . .
Hari ini aku sedang tersenyum
Karena kemenangan ada ditanganku
Orang-orang memberi hal terbaik yang mereka punya untukku
Kepercayaan
Beberapa orang diseberang yang tak biasa menyapaku
Ikut bersorak untukku
Hmm, memang masih bila
Tapi jika terjadi, hal paling bodoh yang bisa kulakuakan
adalah menghentikan langkahku
dan memuaskan diri dengan kemenangan

Bila . . .
Hari ini aku sedang menangis
Karena harapanku runtuh
Karena mimpiku tak terkejar dan masih tersandar
Kekecewaan, lemah untuk bangun hadapi kenyataan
Sudah berjuang tapimasih terus terpuruk
Seolah tebing penghalang itu begitu licin

Sedang hanya orang-orang tersejati yang temani
Yang lain malah menuding, terus menuding
Seolah hardik mereka begitu adil
Melengos dariku dan berucap
Hmm, memang siapa mereka ?
Tapi disini aku tahu hal paling cerdas untuk dilakukan
Tak akan menyerah

Bila . . .
Hari ini aku temukan jawabnya
Atas dalih yang kuyakini
Bahwa . . .
Inilah kemenangan sejati
Yang tercipta dari indahnya kemenangan
Dan atas pahitnya kegagalan
Kutulikan memang
Semua obrolan orang yang menyabalkan
Karena kutahu, kemenangan sejati
Tak mesti diakui
Kadang . . .
Hanya kita yang tahu
Hanya kita yang rasakan
Hanya kita yang nikmati
Dia bagi pelangi
Yang dilukis dari hujan sebagai kegagalan
Dan matahari sebagai kemenangan
Kemenangan itu bisa didapat
Hanya dengan bekerja dengan cinta
Sragen, 16 November 2008.
Senjazeal72.blogspot.com

Panggil Aku(Puisi)

Panggil Aku
Sekejab aku tutup mata
Mencoba memutar angan
Berjalan pada bidang khayal
Dengan kenyataan sebagai kesetimbangan
Menikmati setiap detik waktu

Ribuan alasan mengapa aku bersedih
Bisa saja aku terlibat rasa wajar sebagai manusia yang kecewa
Bila apa yang diupayakan
Yang dikejar . . .
Kunantikan . . .
Berbandingan terbalik dengan apa yang diupayakan
Dan bila tak punya imunitas kebal terhadap rasa sakit
Sakit karena virus pesimis, ketakutan, dan kegelisahan
Tidak . . ., tidak . . ., tidak . . .
Mengapa harus mengambil contoh sekejih itu
Dengan tidak bersyukur saja
Aku bisa menghabiskan 47 joule energi untuk cemberut
Sungguh dengan alasan seminal mungkin
Kita bisa saja menangis
Dan itu payah . . .

Mulai sekarang
Sebut saja aku . . ., Demokritus
Yang berani berani gembar-gembor teori atas apa yang ia yakini
Panggil aku . . ., Boltzman
Yang siap mati atasan resiko ledakan yang harus ia hadapi
Katakan aku . . . Enstein
Yang ciptakan rumus dahsyat penakluk Jepang
Aku bilang aku mirip
Kolonel Harland Sanders
Yang tetap optimise
Meski karyanya ditolak 1000 kali

Tapi, tidak tidak !
Bila ingin dengan opini,
Aku tidak menyangkal jika tidak hanya manusia saja yang akan tertawa
Tapi juga kingdom animalia

Memang aku terlalu jauh untuk itu
Aku mungkin mirip . . ., dengan tukang batu
Tentang semangatnya
Aku mungkin mirip dengan tukan las
Tentang gagasannya
Aku mungkin mirip dengan pedagang siome
Tentang optimismenya
Mirip pula dengan badut
Tentang senyumnya

Jadi panggil aku . . . dengan sebutanku sendiri

makalah isbd


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Masalah konflik sosial merupakan hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita, seiring berjalannya waktu masalah konflik sosial akan terus berkembang dan semakin lengkap, apalagi kemajuan teknologi yang tidak hanya membawa dampak positif tapi juga dampak negatif. Masalah sosial yang tidak segera diatasi justru membawa dampak yang terus beruntun, sebagai bukti negara kita Indonesia tercinta, Indonesia memiliki masalah sosial tentang kependudukan, kemudian berimbas pada pengangguran, banyaknya pengangguran mengakibatkan kemiskinan, dan kemiskinan mengakibatkan kriminalitas. Kriminalitas menjadi budaya dan masalah sosial semakin kompleks. Makalah dengan judul “Masalah Konflik Sosial”, akan mencoba membahas secara ringkas mengenai masalah konflik sosial yang ada dalam masyarakat.
B.     Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan masalah konflik sosial ?
b. Bagaimanakah cara mengetahui masalah kon flik sosial berdasarkan faktor     ekonomis, faktor psikologis, faktor biologis dan faktor kebudayaan ?
c. Bagaimanakah cara pengendalian masalah konflik sosial ?
C.    Tujuan
a.       Mengetahui tentang  masalah konflik sosial yang terjadi di dalam masyarakat
b.      Mengetahui masalah konflik sosial berdasarkan faktor ekonomi, faktor psikologis, faktor  biologis dan faktor kebudayaan.
c.       Mengetahui cara pengendalian masalah konflik sosial
D.    Manfaat
a. Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang masalah konflik sosial di lingkup masyarakat
b. Melatih untuk mengidentifikasikan suatu permasalahan konflik sosial berdasarkan berbagai faktor
c. Melatih mencari solusi dari suatu permasalahan dalam masalah konflik sosial

E.     Sistematika Penulisan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1     Masalah Konflik Sosial
Konflik berasal dari bahasa latin, yaitu configere yang berati saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu aktifitas sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatanya tidak berdaya.
Konflik dalam pengertian luas mencakup konflik secara fisik dan non fisik (lisan, pendapat, ide, kepentingan). Konflik dalam derajat yang longgar atau lemah, misalnya perbedaan ide dan pendapat. Konflik dalam derajat tinggi seperti pertentangan fisik, kerusakan, revolusi, bahkan perang. Konflik sering kali diterima secara negatif karena dianggap merusak keteraturan dan kertertiban dalam masyarakat. Namun, konflik dalam derajat yang longgar dapat memicu kemajuan. Oleh karena itu konflik tidak harus dipersepsikan hal yang buruk.
Masalah sosial adalah suatu ketidak sesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut, sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial (Gillin dan Gillin dalam, Soeyono Soekonto, 1990:399). Masalah sosial pada dasarnya menyangkut nilai-nilai sosial dan moral . Hal tersebut menjadi masalah sosial karena menyangkut tata kelakuan yang immoral/ berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Oleh karena itu masalah sosial tak bisa ditelaah tanpa mempertimbangkan ukluran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap jelek.
Secara umum faktor yang menyebabkan terjadinya masalah sosial adalah faktor ekonomis, faktor biologis, faktor psikologis dan faktor kebudayaan. Faktor ekonomi berhubungan dengan masaalah kemiskinan dan pengangguran. Faktor biologis berkaitan dengan penyakit dan kesehatan. Faktor psikologis berhubungan dengan bunuh diri dan disorganisasi jiwa. Sedangkan faktor kebudayaan berhubungan dengan masalah perceraian, kejahatan, kenakalan anak, konflik rasial dan keagamaan. Tetapi mungkin suatu masalah disebabkan oleh beberapa faktor sekaligus.
2.1.1                       Masalah Konflik Sosial Berdasarkan Faktor Ekonomis
1.      Kemiskinan
Diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya angka pengangguran, sementara harga barang-barang dipasaran terus meningkat.
Beberapa akibat yang timbul dari meningkatnya angka kemiskinan antara lain :
a.       Penurunan tingkat kesehatan masyarakat akibat kekurangan gizi, contohnya kasus busung lapar dibeberapa daerah yang akhir-akhir ini semakin meningkat.
b.      Munculnya demoralisasi yang ditandai dengan meningkatnya angka kriminalitas.
2.      Kejahatan
Tinggi rendahnya angka kejahatan berhubungan erat dengan bentuk-bentuk dan organisai-organisasi sosial dimana kejahatan tersebut terjadi. Misalnya, gerak sosial, persaingan serta pertentang kebudayaan, ideologi, politik, agama, ekonomi, dst. Sedangkan proses yang menjadi jahat melalui proses imitasi, pelaksanaan peranan sosial, asosiasi deferensial, kompensasi, identifikasi, konsepsi iri pribadi(self conception) dan kekecewaan yang agresif, kejahatan yang sekarang perlu mendapatkan perhatian adalah white-collar-crime, kejahatan ini merupakan kejahatan yang dilakukan oleh penguasa atau para pejabat didalam menjalankan fungsinya. Jadi seorang menjadi jahat karena orang tersebut mengadakan kontak dengan pola-pola perilaku jahat dan juga karena dia mengasingkan diri terhadap pola-pola perilaku yang tidak menyukai kejahatan.
Dalam mengatasi masalah kejahatan, dilakukan dengan cara preventif dapat dilakukan dengan cara-cara represif, misalnya dengan cara rehabilitasi.

2.1.2    Masalah Konflik Sosial Berdasarkan Faktor Psikologis
1.      Penyimpangan Seksual
 Merupakan salah satu bentuk perilaku menyimpang dan melanggar norma-norma dalam kehidupan masyarakat. Penyimpangan seksual adalah aktifitas soaial yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual tidak sewajarnya. Bentuk-bentuk penyimpangan seksual antara lain :
a.       Homo seksual, yaitu perilaku seksual yang cenderung tertarik pada berjenis kelamin sama atau sejenis.
b.      Transeksual, yaitu perilau sesorang yang cenderung mengubah karakteriktis seksualnya.
c.       Sadomasokisme,sadisme yaitu kepuasan seksual yang diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih dahulu menyakiti tau menyiksa pasangannya, atau sebaliknya(masokisme).
d.      Ekshibisme , yaitu perilaku seksual yang memperoleh kepuasan seksual dengan cara memperlihatkan alat kelaminnya kepada orang lain sesuai kehendaknya.
2.      Keterbelakang Mental
Orang-orang yang punya keterbelakangan mental adalah orang-orang yang memiliki tingkat intelegencinya sangat rendah. Tanda-tanda orang yang terbelakang : 1) Kecerdasannya sangat terbatas, 2) Ketidakmampuan sosial, 3) Arah minat terbatas, 4) Perhatiannya labil,  5) Daya ingat lemah, 6) Emosi miskin, 7) Apatis, 8) Kelainan badannya.
3.      Psikopati
Kelainan tingkah laku, khususnya tingkah laku anti sosial, yaitu tidak memperdulikan norma-norma.
4.      Psikosis
Kelainan pribadi yang besar, karena seluruh kepribadian orang yang bersangkutan terkena dan orang tersebut tidak dapat lagi hidup dan bergaul normal.
5.      Psikoneurosis
Merupakan ketegangan pribadi yang terus-menerus akibat adanya konflik-konflik dalam diri orang tersebut yang terus-menerus.
6.      Bunuh diri
Masalah kepribadian yang paling banyak terkait dengan usaha bunuh diri adalah suatu kelompok gangguan kepribadian yang disebut “gangguan kepribadian ambang” (borderline personality disorder). Selain tindakan bunuh diri, penderita gangguan kepribadian ini juga memiliki masalah utama dalam relasi antar pribadi yang amat tidak stabil.



2.1.3     Masalah Konflik Sosial Berdasarkan Faktor Biologis
1.      Penyakit HIV/ AIDS
Data menunjukan, 75 % penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual, transfusi darah dan jarum suntik. HIV menyerang kekebalan tubuh.Penyimpangan perilaku seks menyebabkan  remaja memiliki perasaan dan kecemasan tertentu sehingga mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (remaja dimasa mendatang). Oleh sebab itu, keluarga dan masyarakat perlu melakukan upaya preventif dan presesif.
2.      Virus Flu Burung
Dari berbagai strain  hanya ada satu yang menginfeksi manusia, yaitu H5N1. Penularan dari unggas ke manusia, virus ini mati pada suhu 80 %.
Flu Burung cukup merasakan warga Indonesia, jika tidak ada sosialisasi mengenai penyakit ini, baik mengenai ciri-ciri, dan cara mengatasi virus Flu Burung, maka kematian yang disebabkan oleh virus ini juga akan merebah.
3.      Demam berdarah
Disebabkan oleh virus dengue, ditularakan melalui nyamuk Aedess aegypty. Gejala penyakit ini adalah demam,atau panas tinggi, sakit kepala,timbul bercak kemerahan pada kulit,mimisan, dan pada tingkat parah terjadi pendarahan penyebab kematian. Kebanyakan terjadi pada orang-orang ekonomi rendah dikarenakan lingkungan yang tidak sehat. Selain itu pengetahuan yang rendah mengenai penyakit demam berdarah.

2.1.4    Masalah Konflik Sosial Berdasarkan Faktor Kebudayaan
1.         Kenakalan remaja(Delinkuensi Anak)
Secara fenomenologis,gejala kenakalan remaja tampak pada masa pubertas. Pada masa tersebut jiwanya masih dalam keadaan labil sehingga mudah terpengaruh oleh klingkungan pergaulan yang negatif. Adapun penyebab kenakalan tersebut antara lain :
a.       Lingkungan keluarga yang tidak harmonis (broken home)
b.      Situasi yang menjemukan dan membosankan.
c.       Lingkungan masyarakat yang tidak menentu bagi prospek kehidupan masa mendatang, seperti lingkungan kumuh dan penuh kejahatan.
Kenakalan remaja merupakan tingkah laku anak-anak yang tergabung dalam kelompok baik formal maupun non formal yang kurang atau tidak disukai masyarakat. Jenis kenakalan remaja sangat beraneka ragam, dari pemalakan, pencurian, perampasan, pencopetan, pelanggaran lalu lintas, genk motor, pacaran, mabuk-mabukan, dll.
2.         Alkoholisme
Alkohol dapat disebut sebagai racun protoplasmik yang mempunyai efek depresan pada sistem saraf sehingga orang yang mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan akan kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Hal ini menyebabkan seorang pemabuk seringkali melakukan keonaran, keributan, bahkan perkelahian hingga pembunuhan karena tidak dapat berpikir secara normal akibat pengaruh alkohol. Oleh karena itu pemabuk dan pengedar minuman keras dianggap melanggar norma-norma sosial dalam masyarakat.
3.         Penyalahgunaan narkotika
Penyalahgunaan narkotika dapat disebut sebagai penyimpangan perilaku karena melanggar hukum yang berlaku di masyarakat karena bisa merusak organ-organ tubuh sehingga tidak berfungsi sempurna, bahkan susunan saraf yang berfungsi sebagai pengendali daya pikir turut pula rusak. Akibatnya, pikiran menjadi tidak rasional dan sulit membedakan perbuatan baik dan buruk sehingga perilaku yang ditampilkan cenderung bertentangan dengan norma kesusilaan.
4.         Pelacuran
Pelacuran merupakan masalah yang terjadi sejak berkembangnya kebudayaan manusia, penyebab terjadinya pelacuran dapat dilihat dari faktor individu maupun lingkungan. Faktor individu, misalnya nafsu seks yang besar, sifat malas, keinginan hidup enak tanpa bekerja keras. Faktor lingkungan, misalnya urbanisasi yang tak terencana, masalh ekonomi, perencanaan perumahan yang tak sehat. Selain itu faktor konflik mental, situasi hidup yang tidak menguntugkan pada masa kanak-kanak dan pola kepribadian yang kurang dewasa, serta tingkat intelegenci yang rendah.
5.         Peperangan
Sampai saat ini dibeberapa bagian masih terjadi perang antar negara dan dibeberapa bagian terjadi peperangan antar kelompok tertentu. Peperangan atau tawuran mengakibatkan disorganisasi dalam berbagai aspek kemasyarakatan. Tawuran antar kelompok ini biasanya disebabkan oleh masalah-masalah yang kecil. Hal ini bisa terjadi karena tidak adanya rasa kesetiakawanan sosial, rasa saling pengertian dan toleransi serta pemikiran yang sempit.

2.2  Pengendalian Masalah Konflik Sosial
2.2.1    Pengertian
Pengendalian sosial adalah proses terencana yang digunakan untuk menertibkan anggota masyarakat yang tidak mau menaati peraturan yang ada, dengan cara diajarkan, dibujuk, dirayu, ataupun dipaksa untuk menyesuaikan diri pada kebiasaan dan nilai hidup kelompok.
Tujuan pengendalian sosial :
1.      Agar masyarakat mau mematuhi norma-norma sosial yang berlaku baik dengan kesadaran sendiri maupun karena paksaan
2.      Agar dapat mewujudkan keserasian dan ketentraman dalam masyarakat
3.      Bagi orang yang melakukan penyimpangan diusahakan agar kembali mematuhi norma-norma yang berlaku.
2.2.2    Jenis-jenis Lembaga Pengendalian Sosial
1.      Lembaga Kepolisian
Lembaga kepolisian adalah lembaga formal yang sejak awal dibentuk dalam rangka mengawasi semua bentuk penyimpangan.
2.      Lembaga Kejaksaan
Lembaga kejaksaan adalah lembaga formal yang bertugas sebagai penuntut umum yaitu pihak yang mengajukan tuntutan terhadap mereka yang melakukan pelanggaran hukum berdasarkan tertib hukum yang berlaku.
3.      Lembaga Peradilan
Lembaga peradilan pada hakikatnya merupakan lembaga pengendalian sosial formal yang bertugas untuk memeriksa kembali hasil penyidikan dari kepolisian serta menindak lanjuti tuntutan dari kejaksaan terhadap suatu kasus pelanggaran. Lembaga peradilan sesungguhnya merupakan lembaga pengayoman sekaligus lembaga untuk memperoleh rasa keadilan didalam masyarakat.
4.      Lembaga Adat
Pada umumnya masyarakat tradisional masih banyak melakukan pelanggaran norma-norma adat. Penanganannya menjadi kewenangan lembaga adat itu sendiri. Pada masyarakat tradisional lembaga adat ini merupakan lembaga peradilan sosial yang vital dalam mempengaruhi dan megatur tata kelakuan warga masyarakat sehari-hari.
2.2.3    Sifat-sifat Pengendalian Sosial
a.       Pengendalian Sosial Preventif
Pada pengendalian yang bersifat preventif usaha dilakukan sebelum terjadi pelanggaran. Tujuannya adalah mencegah terjadinya perilaku penyimpangan.
b.      Pengendalian Sosial Represif
Pengendalian sosial represif dilakukan apabila telah terjadi pelanggaran dan supaya pulih seperti sediakala
c.       Pengendalian Sosial Gabungan
Pengendalian sosial gabungan merupakan perpaduan antara penegdalain preventif dan represif. Ditujukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan sekaligus memulihkan kembali keadaan semula jika sudah terjadi penyimpangan. Sehingga suatu perilaku yang menyimpang tidak sempat merugikan pelaku yang bersangkutan ataupun orang lain.
d.      Pengendalian Sosial Persuasif
Pengendalian sosial persuasif dilakukan melalui pendekatan dan sosialisasi agar masyarakat mematuhi norma-norma yang ada. Pengendalian sosial ini dilakukan tanpa kekerasan
e.       Pengendalian Sosial Koersif
Pengendalian sosial koersif bersifat memaksa agar anggota masyarakat berperilaku sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
2.2.4 Cara Pengendalian Sosial
a.       Cemoohan
Jika salah satu anggota masyarakat atau kelompok berbuat sesuatu yang dianggap menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku maka seorang atau kelompok tersebut akan dicemooh atau diejek oleh anggota masyarakat lain dengan tujuan agar tidak melakukan perbuatan itu lagi.
b.      Teguran
Teguran merupakan salah satu bentuk pengendalian sosial, bisa berupa peringatan baik secara langsung maupun tidak langsung.
c.       Pendidikan
Pengendalian sosial melalui pendidikan dilakukan dengan efektif melalui proses pendidikan, unsur-unsur yang lain dijadikan sebagai pendukung.
d.      Agama
Pengendalian sosial melalui agama adalah suatu pengendalian sosial yang dilakukan dengan cara menjadikan ajaran agama sebagai pedoman dalam berperilaku. Tujuannya adalah agar kembali taat pada ajaran agama.
e.       Gosip
Gosip adalah berita yang menyebar sangat cepat dan tidak berdasarkan kenyataan, biasanya terjadi ketika kritik sosial secara terbuka tetapi tidak dapat dilontarkan. Tujuannya agar individu yang berperilaku menyimpang akan merasa malu dan bersalah sehingga akan lebih berhati-hati dalam bertindak.
f.       Ostrasisme
Ostrasisime dapat diartikan sebagai pengucilan, biasanya pelaku penyimpangan diperbolehkan bekerja kelompok dalam masyarakat tetapi tidak diajak berkomunikasi. Tujuannya adalah pelaku penyimpangan tidak melakukan pelanggaran pada nilai dan norma yang berlaku.
g.      Fraundulens
Fraundulens adalah pengendalian sosial dengan jalan meminta bantuan kepada pihak lain yang dianggap dapat mengatasi masalah.
h.      Intimidasi
Salah satu pengendalian sosial yang dilakuakan dengan cara menekan, memaksa, dan mengancam atau menakut-nakuti.
i.        Hukum
Hukum adalah peraturan yang bersifat memaksa dan adanya sangsi yang tegas bagi pelaku pelanggaran. Tujuannya agar pelaku pelanggaran jera.



BAB III
PENUTUP
3.1  KESIMPULAN
3.2  SARAN





























DAFTAR PUSTAKA

Tim Sosiologi. 2006. Sosiologi 1 SMA Kelas X. Yudhistira: Jakarta.
Syamsyuri, Istamar. 2007. Biologi untuk SMA Kelas X semester 2. Erlangga : Jakarta.
Ahmadi, Abu. 2009. Psikologi Umum. Rineka Cipta : Jakarta
Herimanto. 2009. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Bumi Aksara : Jakarta
Suwarno, dkk. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. BP-FKIP UMS : Kartasura.
Setiadi, Elly M, dkk. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Kencana: Jakarta.