Bungkus Tape Mbak Sri
“Kepada : Mas Prapto Kedai Leker
Terbaur alur peredaran darah, hingga terbawa keseluruh belahan otak. Dia terbersit rapi dalam memori, kemudian melekat menjadi pemahaman. Dia merasuk kedalam hati, ikut beregenerasi bersama hati yang akhirnya menjadi bagian dari hati itu sendiri.
Cintamu kuterima . . .
Telah kupertimbangkan matang-matang pernyataan cintamu beberapa waktu yang lalu. Namun bukan dengan berpacaran. Jika benar cintamu tak palsu, lamar aku.
Ttd : Sri kedai tape goreng.”Baca Ihsan sambil kesulitan mengeja huruf pada kertas penuh minyak, bekas bungkus tape yang isinya baru saja terselesaikan masuk kemulut. Dirangkai dengan raut wajah unik yang tak mampu kubaca dengan ilmu Karakterologi tipe Hyprocrates Galenus, Heymans apalagi Kretschmer. Tapi yang jelas wajah memerah dan tatap mata penasaran mengisyaratkan bahwa surat itu menyita perhatiannya. Meski bukan untuknya.
Masih dengan wajah yang sama dia bertanya lirih “Mbak Sri, benarkah telah memilih Mas Prapto pemilik kedai leker di area kampus itu. . . .sebagai calon suami?”
“Satu jam yang lalu, sekarang tak lagi” Jawabku singkat.
“Jadi pergulatan kata tak sampai tujuan lagi?, kurasa Mbak Sri tulus mencintai Mas Prapto”. Pertanyaan sekaligus pernyataan Ihsan menajam kilat menuju Hemisfer Serebrumku.
Kujelaskan pada Ihsan, sebab rupanya hati telah menemukan tempatnya untuk bernafas menghela gundahnya. “Dia mengejarku cukup lama, tak ada salahnya kubuka hati untuknya, meski dimata orang dia pemain hati perempuan, aku berkeyakinan itu berakhir setelah dia mendapatkanku. Kutarik ulur nalarku mempertimbangkan segalanya. Mulai dari kebiasaan boros, berlaku kasar, sampai hal kecil yang menjadi bagian dari pribadinya. Setiap orang punya sisi buruk, dan kuterima bagian darinya itu. Sebelum surat ini sampai, dia mendengar dari Husnah temanku, bahwa prinsipku menikah, bukan pacaran. Mas Prapto ternyata hanya ingin sekedar memasukkanku kedalam daftar nama perempuan yang berhasil dia ajak senang-seneng. Dia tinggalkan aku sebelum tahu jawabanku. Generalisasiku salah”.
Wajah Ihsan meredup bak pohon rindang yang menyekap terik surya agar tak sampai pada Si Penggembala yang berteduh dibawahnya dan berucap “Semoga jiwa yang lara akan bertemu dengan jiwa penawarnya, semoga jiwa yang suci akan merasuk dengan jiwa yang membuatnya suci, dan semoga jiwa yang setia bertemu dengan jiwa yang membuatnya abadi”.
“Lara itu bukan seperti sakitnya hati yang diiris kemudian diambil, tapi seperti memisahkan sel-sel terkait membentuk jaringan hati yang telah padu. Tiap kali jaringan itu ditarik, sakitnya menghujam keseluruh tubuh, hingga peredaran darah labil dan fungsi otak tumpang tindih”. Balasku dengan air mata menuju gaya gravitasi, menyapu bekas debu kotor dipori pipi bekas abu dapur yang mengepul.
“Ihsan beranjak dari kedaiku yang mulai remang ditinggal cahaya senja.”Terimakasih tapenya, uang kembalinya untuk Mbak Surti. Semua akan baik-baik saja. Surat bungkus tape ini kubawa sebagai dokumentasi tambahan untuk rekomendasi tulisan Mbak Surti pada publiser”.
“Tak lelahkah kau?” Tanyaku.
“Kenapa kau tak lelah menulis tanpa imbalan?”jawabnya
“Karena aku bekerja dengan cinta”.
“Begitu juga aku”. Jawabnya dilanjutkan paras manis yang dilukis dengan senyum.
Senyum Ihsan, mahasiswa kedokteran UMS semester empat, sekaligus langganan tape goreng setiap surya berpamitan pulang kebarat. Senyumnya, senyum penuh arti yang selalu kutunggu saat sore menjelang, mengakhiri kelelahan tak berkawan, menyeruakkan ambisi dipasar nisan, dan memberi amunisi optimasi harapan untuk mimpiku esok hari.
Ihsan, mahasiswa pengumpul kertas bekas bungkus tape kedaiku. Kertas penuh coretan hasil imajinasiku. Ihsan, selalu ada hal baru dari tiap desah ucapnya mensugestiku nan sayup dendang menghimbau “tulisanku akan terbit”. Dukungannya ibarat laju reaksi yang tak kunjung mengalami titik jenuh.
Aku. Menulis adalah kebahagiaan, penulis adalah impian. Kucukupkan bagiku dengan keadaan ini, bagiku aku telah seorang penulis. Bukan penulis bernafaskan uang, bukan penulis pengemis sanjungan. Tapi penulis riang yang mengintegralkan kata, mengakumulasi kalimat dan seolah memberi ruh pada tiap paragraf. Bukan pengenyam bangku pendidikan memang, karena bangku pendidikan terlalu keras untuk gadis penjual tape goreng tanpa ayah. Kupelajari hal yang bermodalkan ringan, huruf hijaiyah dan alfabet dari buku bekas taman kanak-kanak, kenal berhitung dari budaya dagang, dan belajar makna kata dari kiloan koran bekas calon bungkus tape. Awalnya tak begitu paham, tapi dibantu karikatur unik penyindir tikus berdasi yang ternyata telinganya tersumbat dan malah ternina bobok dengan suara pendapat.
@@@
Pukul 03.00 WIB. Pagi yang tak pernah lengah, asap hasil pembakaran tak sempurna kayu mulai menari diatap dapur, suara gemerisik minyak goreng mengepung tape-tape berbalut adonan gandum, dan guncangan bertempo tiap kali truk-truk besar dari luar kota mulai melintas didepan rumah. Tapi pagi yang tak pernah kehilangan damainya sebab malaikat tak bersayap sedang khusuk sholat tahajud berkomunikasi dengan Tuhannya. Tak tahu pasti apa yang sedang dia pinta, tapi kuyakin tiap butir do’anya menguatkan langkahku, air matanya untuk ampunan, dan sujud simpuhnya untuk pengabdian. Ibu, malaikat yang dijanjikan Allah sebelum aku terlahir sebagai penjaga bertaruh jiwa dan raga. Memang hanya ibu, ibu dan aku. . .
Digubuk berbahan dasar anyaman bambu usia tigapuluhan tahun, berbentuk persegi ukuran 4x4 meter. Beratapkan genteng bocor kala hujan.
Pukul 06.00 WIB. Sepeda bututku melaju menuju kedai.
Pukul 18.00 WIB. Sepeda bututku melaju menjauhi kedai,setelah beberapa saat mahasiswa kedokteran itu memborong beberapa buah gorengan tape terakhir dengan bungkus kertas berisi puisi yang kutulis hari ini.
Kulirihkan sepedaku, mendekati. . .mendekati. . .mendekati abu hitam dan beberapa batang bambu gosong yang sesekali mengeluarkan api dan secara terus menerus memproduksi asap. Mendekati riuh penuh orang-orang pembawa ember berisi air dan mendekati perempuan berwajah pucat penuh iba berbalut air mata sedang bersimpuh tak jauh dari riuh itu. Ibu. Abu diatas tanah berukuran 4x4, karbondioksida dari anyaman bambu yang selesai disantap si jago merah.
Ya, ini rumahku.
Terbakar bersama mimpi-mimpi yang kami gantung didinding-dinding anyaman bambu lusuh.
Aku, ibu dan sepeda peluncur penuju kedai tape malam ini diwajibkan melewati alur berkabut dan menyusuri jalan panjang tanpa kawan menuju kampung halaman. Sragen. Tanpa pamit pada rona wajah Solo dan penghuninya, siapapun itu.
@@@
Lima tahun berlalu, dikampung halaman kami rajut kehidupan. Tetap menjual tape. Tetap menulis. Tetap jadi penulis. Tanpa Ihsan. Tanpa mahasiswa pengumpul bekas bungkus tape kedaiku. Ihsan, mungkin benar perpisahan terkadang harus ada untuk mencairkan hati beku, mengaku, dia jantung hatiku. Cukup bagiku, aku seorang pecinta.
Tak kusiakan lantai kertas tempat penaku menari dipenuhi minyak lagi. Mereka, kusimpan rapi berharap dia kembali untuk menghimpun lagi. Terasa tak mungkin, tapi dia ajari aku bermimpi.
Ihsan, mungkin sekarang dia dengan pujaan hatinya. Laki-laki berparas manis, berhati malaikat dan sarjana lulusan ilmu padi.
Jum’at, 1 april jam 10.00 WIB, akhirnya sampai pulalah aku di Solo tempat Husnah sahabatku, sahabat yang tak sempat aku berpamitan padanya.
“Assalamualaikum”.
“Walaikumsalamwarahmatullahwabarakatu”.
“Subhnallah, Sri?. Kemana saja kau?, bagaimana kabarmu” Tanya Husnah masih begitu ramah padaku, muslimah berdarah Padang yang mengajariku tentang Islam.
“Ana bikhoir, walhamdulilah, bagaimana denganmu?”
“Alhamdulilah, tak jauh beda dengan kau”.
Dia melanjutkan.”Ada suatu hal yang ingin kukatakan padamu”
“Apa itu Husnah?, sepertinya penting?, tentang gamismu yang masih suku terbang saat naik sepeda?hahahahaha”
“Hai. . .ini tentangmu. Tentang Ihsan”. Serius Husnah
Kurasa frekuensi detak jantungku meningkat tajam, tensi darah naik, hormon adrenalin mereproduksi lebih banyak, dan keringat dingin ini membuka rahasia perubahan psikisku pada Husnah.
“Apa yang sebenarnya tejadi dengan hati kalian?” pertanyaan Husnah serasa menggantung. Tanpa tanggung jawab maksudnya apa, dia masuk kedalam kamar.
Menunjukkan sesuatu padaku. Buku.
Aku amati perlahan judul buku bersampul orange ini, “Bungkus Tape Mbak Sri”. Kucari-cari disudut kanan atas”Sri Lestari”. Lalu turun kebawah bagian paling pojok”Ihsan Publiser”.
Rasaku membahana tak karuan, ku lanjutkan halaman pertama, kedua, dan ketiga.
“Buku ini adalah karya seorang gadis penjual tape goreng depan kampus saya, dihimpun dari kertas-kertas bekas bungkus tape dari kedainya.Gadis yang senyumnya selalu dinanti saat senja menjelang. Menikmati siang berganti malam, di kedai tempat dimana hati telah terpaut dengan bambu-bambu kerangka hati pemiliknya”
dr. Ihsan Abdullah
“Buku ini laris terjual, dia menitipkan ini, rekening tabungan hasil penjualan buku”. Ucapkan Husnah sambil menyerahkan sesuatu.
Aku tak terlalu peduli dengan hal itu, aku lari menuju halaman terakhir, Biografi
“Mbak Sri adalah . . . .” ini juga tak penting
“Husnah, dimana Ihsan?”
“Satu tahun yang lalu, dia memutuskan untuk pindah ke California, AS, setelah menikah dengan seorang gadis kedokteran pula. Dia bekerja disana dan dikabarkan telah dikaruniai seorang anak”
Benar, Ihsan telah bersama pujaan hatinya. Tapi. . . Cukup bagiku, aku seorang pecinta.