BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah konflik sosial merupakan hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita, seiring berjalannya waktu masalah konflik sosial akan terus berkembang dan semakin lengkap, apalagi kemajuan teknologi yang tidak hanya membawa dampak positif tapi juga dampak negatif. Masalah sosial yang tidak segera diatasi justru membawa dampak yang terus beruntun, sebagai bukti negara kita Indonesia tercinta, Indonesia memiliki masalah sosial tentang kependudukan, kemudian berimbas pada pengangguran, banyaknya pengangguran mengakibatkan kemiskinan, dan kemiskinan mengakibatkan kriminalitas. Kriminalitas menjadi budaya dan masalah sosial semakin kompleks. Makalah dengan judul “Masalah Konflik Sosial”, akan mencoba membahas secara ringkas mengenai masalah konflik sosial yang ada dalam masyarakat.
B. Rumusan Masalah
a. Apakah yang dimaksud dengan masalah konflik sosial ?
b. Bagaimanakah cara mengetahui masalah kon flik sosial berdasarkan faktor ekonomis, faktor psikologis, faktor biologis dan faktor kebudayaan ?
c. Bagaimanakah cara pengendalian masalah konflik sosial ?
C. Tujuan
a. Mengetahui tentang masalah konflik sosial yang terjadi di dalam masyarakat
b. Mengetahui masalah konflik sosial berdasarkan faktor ekonomi, faktor psikologis, faktor biologis dan faktor kebudayaan.
c. Mengetahui cara pengendalian masalah konflik sosial
D. Manfaat
a. Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang masalah konflik sosial di lingkup masyarakat
b. Melatih untuk mengidentifikasikan suatu permasalahan konflik sosial berdasarkan berbagai faktor
c. Melatih mencari solusi dari suatu permasalahan dalam masalah konflik sosial
E. Sistematika Penulisan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Masalah Konflik Sosial
Konflik berasal dari bahasa latin, yaitu configere yang berati saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu aktifitas sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatanya tidak berdaya.
Konflik dalam pengertian luas mencakup konflik secara fisik dan non fisik (lisan, pendapat, ide, kepentingan). Konflik dalam derajat yang longgar atau lemah, misalnya perbedaan ide dan pendapat. Konflik dalam derajat tinggi seperti pertentangan fisik, kerusakan, revolusi, bahkan perang. Konflik sering kali diterima secara negatif karena dianggap merusak keteraturan dan kertertiban dalam masyarakat. Namun, konflik dalam derajat yang longgar dapat memicu kemajuan. Oleh karena itu konflik tidak harus dipersepsikan hal yang buruk.
Masalah sosial adalah suatu ketidak sesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok sosial. Atau menghambat terpenuhinya keinginan-keinginan pokok warga kelompok sosial tersebut, sehingga menyebabkan kepincangan ikatan sosial (Gillin dan Gillin dalam, Soeyono Soekonto, 1990:399). Masalah sosial pada dasarnya menyangkut nilai-nilai sosial dan moral . Hal tersebut menjadi masalah sosial karena menyangkut tata kelakuan yang immoral/ berlawanan dengan hukum dan bersifat merusak. Oleh karena itu masalah sosial tak bisa ditelaah tanpa mempertimbangkan ukluran-ukuran masyarakat mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap jelek.
Secara umum faktor yang menyebabkan terjadinya masalah sosial adalah faktor ekonomis, faktor biologis, faktor psikologis dan faktor kebudayaan. Faktor ekonomi berhubungan dengan masaalah kemiskinan dan pengangguran. Faktor biologis berkaitan dengan penyakit dan kesehatan. Faktor psikologis berhubungan dengan bunuh diri dan disorganisasi jiwa. Sedangkan faktor kebudayaan berhubungan dengan masalah perceraian, kejahatan, kenakalan anak, konflik rasial dan keagamaan. Tetapi mungkin suatu masalah disebabkan oleh beberapa faktor sekaligus.
2.1.1 Masalah Konflik Sosial Berdasarkan Faktor Ekonomis
1. Kemiskinan
Diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang tidak sanggup memelihara dirinya sendiri sesuai dengan taraf kehidupan kelompok dan juga tidak mampu memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya dalam kelompok tersebut. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya angka pengangguran, sementara harga barang-barang dipasaran terus meningkat.
Beberapa akibat yang timbul dari meningkatnya angka kemiskinan antara lain :
a. Penurunan tingkat kesehatan masyarakat akibat kekurangan gizi, contohnya kasus busung lapar dibeberapa daerah yang akhir-akhir ini semakin meningkat.
b. Munculnya demoralisasi yang ditandai dengan meningkatnya angka kriminalitas.
2. Kejahatan
Tinggi rendahnya angka kejahatan berhubungan erat dengan bentuk-bentuk dan organisai-organisasi sosial dimana kejahatan tersebut terjadi. Misalnya, gerak sosial, persaingan serta pertentang kebudayaan, ideologi, politik, agama, ekonomi, dst. Sedangkan proses yang menjadi jahat melalui proses imitasi, pelaksanaan peranan sosial, asosiasi deferensial, kompensasi, identifikasi, konsepsi iri pribadi(self conception) dan kekecewaan yang agresif, kejahatan yang sekarang perlu mendapatkan perhatian adalah white-collar-crime, kejahatan ini merupakan kejahatan yang dilakukan oleh penguasa atau para pejabat didalam menjalankan fungsinya. Jadi seorang menjadi jahat karena orang tersebut mengadakan kontak dengan pola-pola perilaku jahat dan juga karena dia mengasingkan diri terhadap pola-pola perilaku yang tidak menyukai kejahatan.
Dalam mengatasi masalah kejahatan, dilakukan dengan cara preventif dapat dilakukan dengan cara-cara represif, misalnya dengan cara rehabilitasi.
2.1.2 Masalah Konflik Sosial Berdasarkan Faktor Psikologis
1. Penyimpangan Seksual
Merupakan salah satu bentuk perilaku menyimpang dan melanggar norma-norma dalam kehidupan masyarakat. Penyimpangan seksual adalah aktifitas soaial yang ditempuh seseorang untuk mendapatkan kenikmatan seksual tidak sewajarnya. Bentuk-bentuk penyimpangan seksual antara lain :
a. Homo seksual, yaitu perilaku seksual yang cenderung tertarik pada berjenis kelamin sama atau sejenis.
b. Transeksual, yaitu perilau sesorang yang cenderung mengubah karakteriktis seksualnya.
c. Sadomasokisme,sadisme yaitu kepuasan seksual yang diperoleh bila mereka melakukan hubungan seksual dengan terlebih dahulu menyakiti tau menyiksa pasangannya, atau sebaliknya(masokisme).
d. Ekshibisme , yaitu perilaku seksual yang memperoleh kepuasan seksual dengan cara memperlihatkan alat kelaminnya kepada orang lain sesuai kehendaknya.
2. Keterbelakang Mental
Orang-orang yang punya keterbelakangan mental adalah orang-orang yang memiliki tingkat intelegencinya sangat rendah. Tanda-tanda orang yang terbelakang : 1) Kecerdasannya sangat terbatas, 2) Ketidakmampuan sosial, 3) Arah minat terbatas, 4) Perhatiannya labil, 5) Daya ingat lemah, 6) Emosi miskin, 7) Apatis, 8) Kelainan badannya.
3. Psikopati
Kelainan tingkah laku, khususnya tingkah laku anti sosial, yaitu tidak memperdulikan norma-norma.
4. Psikosis
Kelainan pribadi yang besar, karena seluruh kepribadian orang yang bersangkutan terkena dan orang tersebut tidak dapat lagi hidup dan bergaul normal.
5. Psikoneurosis
Merupakan ketegangan pribadi yang terus-menerus akibat adanya konflik-konflik dalam diri orang tersebut yang terus-menerus.
6. Bunuh diri
Masalah kepribadian yang paling banyak terkait dengan usaha bunuh diri adalah suatu kelompok gangguan kepribadian yang disebut “gangguan kepribadian ambang” (borderline personality disorder). Selain tindakan bunuh diri, penderita gangguan kepribadian ini juga memiliki masalah utama dalam relasi antar pribadi yang amat tidak stabil.
2.1.3 Masalah Konflik Sosial Berdasarkan Faktor Biologis
1. Penyakit HIV/ AIDS
Data menunjukan, 75 % penularan HIV terjadi melalui hubungan seksual, transfusi darah dan jarum suntik. HIV menyerang kekebalan tubuh.Penyimpangan perilaku seks menyebabkan remaja memiliki perasaan dan kecemasan tertentu sehingga mempengaruhi kualitas sumber daya manusia (remaja dimasa mendatang). Oleh sebab itu, keluarga dan masyarakat perlu melakukan upaya preventif dan presesif.
2. Virus Flu Burung
Dari berbagai strain hanya ada satu yang menginfeksi manusia, yaitu H5N1. Penularan dari unggas ke manusia, virus ini mati pada suhu 80 %.
Flu Burung cukup merasakan warga Indonesia, jika tidak ada sosialisasi mengenai penyakit ini, baik mengenai ciri-ciri, dan cara mengatasi virus Flu Burung, maka kematian yang disebabkan oleh virus ini juga akan merebah.
3. Demam berdarah
Disebabkan oleh virus dengue, ditularakan melalui nyamuk Aedess aegypty. Gejala penyakit ini adalah demam,atau panas tinggi, sakit kepala,timbul bercak kemerahan pada kulit,mimisan, dan pada tingkat parah terjadi pendarahan penyebab kematian. Kebanyakan terjadi pada orang-orang ekonomi rendah dikarenakan lingkungan yang tidak sehat. Selain itu pengetahuan yang rendah mengenai penyakit demam berdarah.
2.1.4 Masalah Konflik Sosial Berdasarkan Faktor Kebudayaan
1. Kenakalan remaja(Delinkuensi Anak)
Secara fenomenologis,gejala kenakalan remaja tampak pada masa pubertas. Pada masa tersebut jiwanya masih dalam keadaan labil sehingga mudah terpengaruh oleh klingkungan pergaulan yang negatif. Adapun penyebab kenakalan tersebut antara lain :
a. Lingkungan keluarga yang tidak harmonis (broken home)
b. Situasi yang menjemukan dan membosankan.
c. Lingkungan masyarakat yang tidak menentu bagi prospek kehidupan masa mendatang, seperti lingkungan kumuh dan penuh kejahatan.
Kenakalan remaja merupakan tingkah laku anak-anak yang tergabung dalam kelompok baik formal maupun non formal yang kurang atau tidak disukai masyarakat. Jenis kenakalan remaja sangat beraneka ragam, dari pemalakan, pencurian, perampasan, pencopetan, pelanggaran lalu lintas, genk motor, pacaran, mabuk-mabukan, dll.
2. Alkoholisme
Alkohol dapat disebut sebagai racun protoplasmik yang mempunyai efek depresan pada sistem saraf sehingga orang yang mengkonsumsi minuman beralkohol secara berlebihan akan kehilangan kemampuan untuk mengendalikan diri, baik secara fisik, psikologis, maupun sosial. Hal ini menyebabkan seorang pemabuk seringkali melakukan keonaran, keributan, bahkan perkelahian hingga pembunuhan karena tidak dapat berpikir secara normal akibat pengaruh alkohol. Oleh karena itu pemabuk dan pengedar minuman keras dianggap melanggar norma-norma sosial dalam masyarakat.
3. Penyalahgunaan narkotika
Penyalahgunaan narkotika dapat disebut sebagai penyimpangan perilaku karena melanggar hukum yang berlaku di masyarakat karena bisa merusak organ-organ tubuh sehingga tidak berfungsi sempurna, bahkan susunan saraf yang berfungsi sebagai pengendali daya pikir turut pula rusak. Akibatnya, pikiran menjadi tidak rasional dan sulit membedakan perbuatan baik dan buruk sehingga perilaku yang ditampilkan cenderung bertentangan dengan norma kesusilaan.
4. Pelacuran
Pelacuran merupakan masalah yang terjadi sejak berkembangnya kebudayaan manusia, penyebab terjadinya pelacuran dapat dilihat dari faktor individu maupun lingkungan. Faktor individu, misalnya nafsu seks yang besar, sifat malas, keinginan hidup enak tanpa bekerja keras. Faktor lingkungan, misalnya urbanisasi yang tak terencana, masalh ekonomi, perencanaan perumahan yang tak sehat. Selain itu faktor konflik mental, situasi hidup yang tidak menguntugkan pada masa kanak-kanak dan pola kepribadian yang kurang dewasa, serta tingkat intelegenci yang rendah.
5. Peperangan
Sampai saat ini dibeberapa bagian masih terjadi perang antar negara dan dibeberapa bagian terjadi peperangan antar kelompok tertentu. Peperangan atau tawuran mengakibatkan disorganisasi dalam berbagai aspek kemasyarakatan. Tawuran antar kelompok ini biasanya disebabkan oleh masalah-masalah yang kecil. Hal ini bisa terjadi karena tidak adanya rasa kesetiakawanan sosial, rasa saling pengertian dan toleransi serta pemikiran yang sempit.
2.2 Pengendalian Masalah Konflik Sosial
2.2.1 Pengertian
Pengendalian sosial adalah proses terencana yang digunakan untuk menertibkan anggota masyarakat yang tidak mau menaati peraturan yang ada, dengan cara diajarkan, dibujuk, dirayu, ataupun dipaksa untuk menyesuaikan diri pada kebiasaan dan nilai hidup kelompok.
Tujuan pengendalian sosial :
1. Agar masyarakat mau mematuhi norma-norma sosial yang berlaku baik dengan kesadaran sendiri maupun karena paksaan
2. Agar dapat mewujudkan keserasian dan ketentraman dalam masyarakat
3. Bagi orang yang melakukan penyimpangan diusahakan agar kembali mematuhi norma-norma yang berlaku.
2.2.2 Jenis-jenis Lembaga Pengendalian Sosial
1. Lembaga Kepolisian
Lembaga kepolisian adalah lembaga formal yang sejak awal dibentuk dalam rangka mengawasi semua bentuk penyimpangan.
2. Lembaga Kejaksaan
Lembaga kejaksaan adalah lembaga formal yang bertugas sebagai penuntut umum yaitu pihak yang mengajukan tuntutan terhadap mereka yang melakukan pelanggaran hukum berdasarkan tertib hukum yang berlaku.
3. Lembaga Peradilan
Lembaga peradilan pada hakikatnya merupakan lembaga pengendalian sosial formal yang bertugas untuk memeriksa kembali hasil penyidikan dari kepolisian serta menindak lanjuti tuntutan dari kejaksaan terhadap suatu kasus pelanggaran. Lembaga peradilan sesungguhnya merupakan lembaga pengayoman sekaligus lembaga untuk memperoleh rasa keadilan didalam masyarakat.
4. Lembaga Adat
Pada umumnya masyarakat tradisional masih banyak melakukan pelanggaran norma-norma adat. Penanganannya menjadi kewenangan lembaga adat itu sendiri. Pada masyarakat tradisional lembaga adat ini merupakan lembaga peradilan sosial yang vital dalam mempengaruhi dan megatur tata kelakuan warga masyarakat sehari-hari.
2.2.3 Sifat-sifat Pengendalian Sosial
a. Pengendalian Sosial Preventif
Pada pengendalian yang bersifat preventif usaha dilakukan sebelum terjadi pelanggaran. Tujuannya adalah mencegah terjadinya perilaku penyimpangan.
b. Pengendalian Sosial Represif
Pengendalian sosial represif dilakukan apabila telah terjadi pelanggaran dan supaya pulih seperti sediakala
c. Pengendalian Sosial Gabungan
Pengendalian sosial gabungan merupakan perpaduan antara penegdalain preventif dan represif. Ditujukan untuk mencegah terjadinya penyimpangan sekaligus memulihkan kembali keadaan semula jika sudah terjadi penyimpangan. Sehingga suatu perilaku yang menyimpang tidak sempat merugikan pelaku yang bersangkutan ataupun orang lain.
d. Pengendalian Sosial Persuasif
Pengendalian sosial persuasif dilakukan melalui pendekatan dan sosialisasi agar masyarakat mematuhi norma-norma yang ada. Pengendalian sosial ini dilakukan tanpa kekerasan
e. Pengendalian Sosial Koersif
Pengendalian sosial koersif bersifat memaksa agar anggota masyarakat berperilaku sesuai dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat.
2.2.4 Cara Pengendalian Sosial
a. Cemoohan
Jika salah satu anggota masyarakat atau kelompok berbuat sesuatu yang dianggap menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku maka seorang atau kelompok tersebut akan dicemooh atau diejek oleh anggota masyarakat lain dengan tujuan agar tidak melakukan perbuatan itu lagi.
b. Teguran
Teguran merupakan salah satu bentuk pengendalian sosial, bisa berupa peringatan baik secara langsung maupun tidak langsung.
c. Pendidikan
Pengendalian sosial melalui pendidikan dilakukan dengan efektif melalui proses pendidikan, unsur-unsur yang lain dijadikan sebagai pendukung.
d. Agama
Pengendalian sosial melalui agama adalah suatu pengendalian sosial yang dilakukan dengan cara menjadikan ajaran agama sebagai pedoman dalam berperilaku. Tujuannya adalah agar kembali taat pada ajaran agama.
e. Gosip
Gosip adalah berita yang menyebar sangat cepat dan tidak berdasarkan kenyataan, biasanya terjadi ketika kritik sosial secara terbuka tetapi tidak dapat dilontarkan. Tujuannya agar individu yang berperilaku menyimpang akan merasa malu dan bersalah sehingga akan lebih berhati-hati dalam bertindak.
f. Ostrasisme
Ostrasisime dapat diartikan sebagai pengucilan, biasanya pelaku penyimpangan diperbolehkan bekerja kelompok dalam masyarakat tetapi tidak diajak berkomunikasi. Tujuannya adalah pelaku penyimpangan tidak melakukan pelanggaran pada nilai dan norma yang berlaku.
g. Fraundulens
Fraundulens adalah pengendalian sosial dengan jalan meminta bantuan kepada pihak lain yang dianggap dapat mengatasi masalah.
h. Intimidasi
Salah satu pengendalian sosial yang dilakuakan dengan cara menekan, memaksa, dan mengancam atau menakut-nakuti.
i. Hukum
Hukum adalah peraturan yang bersifat memaksa dan adanya sangsi yang tegas bagi pelaku pelanggaran. Tujuannya agar pelaku pelanggaran jera.
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
3.2 SARAN
DAFTAR PUSTAKA
Tim Sosiologi. 2006. Sosiologi 1 SMA Kelas X. Yudhistira: Jakarta.
Syamsyuri, Istamar. 2007. Biologi untuk SMA Kelas X semester 2. Erlangga : Jakarta.
Ahmadi, Abu. 2009. Psikologi Umum. Rineka Cipta : Jakarta
Herimanto. 2009. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Bumi Aksara : Jakarta
Suwarno, dkk. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. BP-FKIP UMS : Kartasura.
Setiadi, Elly M, dkk. 2008. Ilmu Sosial dan Budaya Dasar. Kencana: Jakarta.