Panggil Aku
Sekejab aku tutup mata
Mencoba memutar angan
Berjalan pada bidang khayal
Dengan kenyataan sebagai kesetimbangan
Menikmati setiap detik waktu
Ribuan alasan mengapa aku bersedih
Bisa saja aku terlibat rasa wajar sebagai manusia yang kecewa
Bila apa yang diupayakan
Yang dikejar . . .
Kunantikan . . .
Berbandingan terbalik dengan apa yang diupayakan
Dan bila tak punya imunitas kebal terhadap rasa sakit
Sakit karena virus pesimis, ketakutan, dan kegelisahan
Tidak . . ., tidak . . ., tidak . . .
Mengapa harus mengambil contoh sekejih itu
Dengan tidak bersyukur saja
Aku bisa menghabiskan 47 joule energi untuk cemberut
Sungguh dengan alasan seminal mungkin
Kita bisa saja menangis
Dan itu payah . . .
Mulai sekarang
Sebut saja aku . . ., Demokritus
Yang berani berani gembar-gembor teori atas apa yang ia yakini
Panggil aku . . ., Boltzman
Yang siap mati atasan resiko ledakan yang harus ia hadapi
Katakan aku . . . Enstein
Yang ciptakan rumus dahsyat penakluk Jepang
Aku bilang aku mirip
Kolonel Harland Sanders
Yang tetap optimise
Meski karyanya ditolak 1000 kali
Tapi, tidak tidak !
Bila ingin dengan opini,
Aku tidak menyangkal jika tidak hanya manusia saja yang akan tertawa
Tapi juga kingdom animalia
Memang aku terlalu jauh untuk itu
Aku mungkin mirip . . ., dengan tukang batu
Tentang semangatnya
Aku mungkin mirip dengan tukan las
Tentang gagasannya
Aku mungkin mirip dengan pedagang siome
Tentang optimismenya
Mirip pula dengan badut
Tentang senyumnya
Jadi panggil aku . . . dengan sebutanku sendiri